Jumat, 22 Juli 2016

JAUHKAN ANAKMU DARI KEMUDAHAN

JAUHKAN ANAKMU DARI KEMUDAHAN
(Rhenald Khasali)


Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.
Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu "ada main" dengan dosen-dosennya. "Karena mereka tak sepintar aku," ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar : kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.

Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah orang tua
Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, "Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan".

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan "membuka pintu", jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.

Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.

Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.
Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini : "Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?"
Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk "bengal". Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang "selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan".

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak.

Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.

Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.
Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung Orang Dewasa
Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.

Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.

Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.
Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.
Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu "bodoh", tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.

Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan : bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.
Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.

Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.
Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

Rabu, 20 Juli 2016

OBROLAN SAMA ORANG STRESS


Komunikasi  orang yg lagi strees      

1. Dok, tolong selametin anak saya!
Tenang dulu bu! Anak ibu kenapa?
Anak saya ulang tahun dok! Selametin ya…

2. Rapi amat lo Dul, mau kemana?
Nonton konser Mak!
Dimana?
Di Youtube
Oh, baek baek yak
Iye mak

3. Bang, nasi goreng satu.
Pedes apa ga?
Mana gue tau? Kan belum nyicipin! 

4. Bang bubur satu ya 
Pakai kacang?
Pakee..
Dikasih ayam Mas..?
Kalau dikasih ayam gue makan apa? 

5. Saya mau ngelamar kerja, ini poto copy ijazah saya.
Kok poto copy?!? aslinya mana…???
Tegal mas…!! 

6. Bang maaf, disini ruangan ber-AC, jadi nggak boleh ngerokok.
Oh maaf pak, lupa matiin AC-nya…!!! (Ambil remote) 

7. Bang, kok mie ayamnya gak ada ayamnya?!
Lah, lu kalau beli lem tikus emang ada tikusnya?!
gigit mangkok 

8. Mbak minta es teh.
Manis gak? v
Gak usah manis2, yg penting setia dan mau menerima saya apa adanya *eaaaaaaa 

9. Guru: Ayo anak2 coba sebutkan ciri2 gunung aktif
Murid: miscall aja bu, kalo nyambung berarti aktif.

10. Dek sekolah di mana?, kok bajunya kotak2 hitam putih gitu?
Sekolah TK
TK mana?
TK teki silang 

11. Abang bakso, gerobaknya rusak ya?
Enggak koq.. 
Lah… Koq didorong?? 

Selasa, 19 Juli 2016

CERDAS BERKARAKTER



Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya Why Asians Are Less Creative Than Westerners” (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi “best seller”, mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang :

1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain).
Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreativitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki kekayaan banyak.

2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai cerita, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. 
Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yg wajar.

3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pada pengertian.
Ujian Nasional, tes masuk PT dll, semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.

4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit- sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olimpiade Fisika, dan Matematika.
Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil risiko kurang dihargai.

7. Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.

8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta Asia jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru/narasumber untuk minta penjelasan tambahan.

Dalam bukunya Profesor Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sebagai berikut :

1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.
2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya.
3. Jangan jejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihafalkan ? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya.
4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.
5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA !
6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa  yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau KITA TIDAK TAHU !
7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan... sebagai orang tua kita bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita _ untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.

Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa korupsi
Semoga bermanfaat....

Senin, 18 Juli 2016

GAJI 10 JUTA



Bila Anda digaji 10 juta oleh perusahaan, namun anda bekerja seperti orang bergaji 20 juta, maka Allah akan membayar lebihnya degan kesehatan anak, karier, keluarga sejahtera sakinah mawadah warahmah dan  semisalnya.

Namun bila anda hanya bekerja seperti orang yang bergaji 5 juta, maka Allah akan menuntut sisanya, dengan memberimu ujian,  kesulitan, hutang, kesempitan dan semisalnya.

Jadi mari bekerjalah dengan maksimal, ikhlas, yakinlah dan perhatikan apa yang Allah buat untuk kejayaanmu."

SUKSESS UNTUK SEMUA...

Rabu, 13 Juli 2016

APA MANFAAT KEBERADAAN KITA DI GROUP INI



APA MANFAAT KEBERADAAN KITA DI GROUP INI . . .?

ALLAH Ta'ala  mempertemukan kita untuk satu alasan...
Entah untuk memberi atau untuk menerima...
Entah untuk belajar atau untuk menyampaikan...
Entah untuk bercerita atau untuk mendengarkan...
Entah untuk sesaat atau untuk selamanya...
Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya untuk sekedarnya...

Semua tidak akan ada yang sia-sia, karena Allah yang mempertemukan.
Hidup kita saling mengisi.
Jikalau ada perbedaan, itu adalah hal yg biasa...
Tak perlu diperbesar dan jangan jadi perpecahan sehingga memutuskan tali silaturrahim yg sudah terjalin.

Bisa jadi kehadiran kita adalah jawaban atas do'a-do'a saudara kita sebagaimana mereka pun adalah jawaban atas do'a-do'a kita.

Jika sudah menjadi takdir Allah, meski dengan jarak beribu-ribu kilometer jauhnya, kita tetap akan dipertemukan, dalam satu ikatan "Ukhuwah"...

Semoga Group ini semakin kuat & solid seiring dgn doa-doa kita bersama.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yang bukan Nabi, dan bukan pula Syuhada.
Tetapi para Nabi dan syuhada cemburu pada mereka di hari kiamat nanti, disebabkan kedudukan yang diberikan Allah kepada mereka"

Seorang Sahabat bertanya :
"Ya Rasulullah, beritahukanlah kepada kami, siapa mereka yg di maksud itu?
Agar kami bisa turut mencintai mereka" ... ujar para sahabat. 

Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam  menjawab :
“Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai, mengasihi dan menyayangi karena Allah Ta'ala 

Tanpa adanya hubungan darah, keluarga dan Nasab di antara mereka

Demi Allah, wajah-wajah mereka pada hari itu BERSINAR bagaikan CAHAYA di atas mimbar-mimbar dari cahaya.

Mereka tidak takut di saat manusia takut, dan mereka tidak sedih di saat manusia sedih
(HR. Abu Dawud)

Sedikit pencerahan tentang persatuan, persahabatan dan persaudaraan.

Semoga tali Silaturrahim, persahabatan dan persaudaraan kita dalam Grup ini, termasuk ke dalam golongan yg di Ridhoi serta diberkahi oleh Allah Ta'ala...
Aamiin Ya Rabbal Alamiin.
Terlepas dari apapun status sosialmu, betapa pun tinggi kedudukanmu dalam karier dan  kehidupanmu, niscaya kau tetaplah manusia biasa yg tak luput dari khilaf, salah dan dosa di hadapan Robbmu dan juga manusia-manusia lain.. yg kelak akan dimandikan, di khafan-kan, di sholatkan dan dikuburkan oleh orang lain*

"Jagalah selalu tali silaturrahim dan hubungan baik pada sesamamu"

Selasa, 12 Juli 2016

MATI LAMPU


Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA

Pernahkah anda tiba-tiba mengalami mati lampu? Pet! Apa yang anda rasakan saat itu? Gelap gulita.
Tidak tahu mana arah. Grayap-grayap, meraba-raba. Anda sulit membedakan mana makanan dan mana kotoran.  Mana kucing dan mana anjing. Mana kopi dan mana terigu. Mana gula dan mana garam.
Anda berjalan dengan sangat pelan karena takut menabrak meja dan kursi atau tembok.

Keinginan Terbesar
Banyak keinginan manusia di dunia ini. Namun saat mati lampu, saya yakin keinginan terbesar kita adalah agar lampu menyala kembali. Atau minimal kita akan mencari secercah cahaya. Lilin, senter, HP, atau yang lainnya. Untuk menyinari kegelapan yang terasa sangat mengganggu.
Jadi, cahaya adalah kebutuhan pokok manusia.

Cahaya Hakiki
Namun tahukah Anda, bahwa di sana ada cahaya yang jauh lebih penting dibanding cahaya lampu atau lilin? Sebab lampu itu hanya kita butuhkan di malam hari saja.

Ketahuilah bahwa di sana ada cahaya yang kita butuhkan siang dan malam, sejak kita lahir hingga kita meninggal dunia. Bahkan saat kita di kuburan kelak dan di alam akhirat.

Apakah cahaya itu? Cahaya tersebut tidak lain adalah ilmu agama yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah disertai lentera bimbingan para ulama. Allah ta’ala berfirman,
“وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا”
Artinya : “Telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang”. (QS. An-Nisa’ (4): 174).

Maksud dari cahaya dalam ayat di atas adalah al-Qur’an. Demikian keterangan Imam ath-Thabariy.
Ilmu agama adalah kebutuhan primer setiap insan. Bahkan menurut Imam Ahmad bin Hambal, kebutuhan kita terhadap ilmu agama lebih besar dibanding kehidupan kita terhadap makan dan minum.
Sebab dalam sehari semalam, paling-paling kita membutuhkan makan dan minum, dua atau tiga kali saja. Sedangkan ilmu selalu kita butuhkan setiap saat.

Tapi realitanya dalam keseharian, waktu kita lebih banyak dialokasikan untuk mencari makan dan minum dibanding untuk mencari ilmu agama.

Ilmu agama inilah yang akan menerangi kehidupan kita. Membantu kita untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Yang bermanfaat dan yang berbahaya. Yang halal dan yang haram. Membedakan tauhid dan syirik, sunnah dan bid’ah, juga maksiat dan ibadah.

Cahaya ini pula yang akan membimbing kita menuju surga Allah di tengah kegelapan hari kiamat kelak. Allah ta’ala berfirman,

“يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ…”

Artinya : “Pada hari engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa 
cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka. (Dikatakan kepada mereka), “Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian. (Yaitu) surga-surga…”_*. (QS. Al-Hadid (57): 12.)

Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa cahaya orang yang beriman kelak akan berbeda-beda. Ada yang sebesar gunung. Ada yang sebesar pohon kurma. Ada yang sebesar orang yang sedang berdiri. Dan adapula yang cahayanya di jempol dia. Terkadang menyala dan kadang pula padam.
Maka mari kita terus belajar ilmu agama, agar cahaya kita semakin terang benderang!

Senin, 11 Juli 2016

SANDI LALIN POLISI

INFO BALIK MUDIK LEBARAN :  DI SIARKAN SECARA LANGSUNG



Polisi yang lagi Sibuk memberikan Laporan situasi jalan di H +3 dengan Monitoring Center (MC) di Polda JABAR Seputar Libur Panjang
Berikut Obrolan mereka dengan menggunakan Komunikasi HT (Handy Talky).

MC      : “Bagaimana Kondisi jalan Tol Cikampek Jasa Marga....?
Patroli   : RAMLAN… Rame lancar bro.....

MC       : ”Bagaimana di daerah Lembang Bandung?
Patroli     : "Wah di Lembang Kondisi PAMER PAHA… Padat Merayap Tanpa Harapan ....

MC     : “Oke Sekarang di daerah jalan Tol PADALEUNYI ....?
Patroli      : "Di Tol Padaleunyi terjadi PAMER SUSU… Padat Merayap Susul menyusul"

MC      : “Kembali ke Daerah jalan Dago..Bagaimana kondisinya..?
Patroli    : "Lapor, Kondisi.        Jl. DAGO PAMER GIGI…Padat Merayap Gila-gilaan…Hehehee

MC       : “Coba Cek Kondisi di Jalan Surya Sumantri....?
Patroli    : "Saat ini Kondisinya PAMER PANTAT…Padat merayap Panjang Antrian Merapat…

MC     : “Bagaimana Kondisi Jalan Rancaekek .....?
Patroli    : "Wahhh PAMER PAHA DIRANJANG… Padat Merayap tanpa Harapan didalam Antrian Panjang…"

MC     : “Cek juga jalan Leuwi Panjang…Tolong dilapor pula itu Bah…!!"
Patroli   : "Kondisib di jalan Leuwi Panjang PAMER DADA… Padat Merayap Tersendat - Sendat…."

MC     : “Satu lagi nih di Jalan arah ke KOPO..Bagaimana ..?"
Patroli  : "Situasinya PAMER JEMPOL… Padat Merayap Terjebak  Macet di Pintu Tol…"

MC   : “Oke..semua dalam Kondisi Macet ya......Terima kasih atas laporannya,
MC     : Anda Sendiri Posisi mana...?
Patroli : “Saya ada di Jalan Tol arah Brexit...... dalam Kondisi PAMER PENIS…..

MC : “Haahhhhh…Apa tuh....? perasaan belum ada Kode seperti itu.....coba jelaskan
Patroli : “PAMER PENIS ..... Padat Merayap Pengen Nangis….
SERIUS AMAT BACANYA

Kamis, 07 Juli 2016

LEBARAN PENUH KEHANGATAN



"Lebaran kedua " biasanya " Lebaran Penuh Kehangatan "  karena :
Sayur di hangatkan
Rendang di hangatkan
Opor ayam di hangatkan
Semua di hangatkan,...
Sehingga "Suasananya Penuh Kehangatan"