Senin, 19 Februari 2018

MONYET MENGGENGGAM KACANG

Di Afrika, ada sebuah teknik yang unik untuk berburu monyet di hutan Afrika.
Si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup2 tanpa harus menggunakan senapan dan obat bius, dan tanpa cidera.

Cara menangkapnya sederhana saja, pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit.
Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma untuk mengundang monyet2 datang.

Setelah diisi kacang, toples2 itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.

Para pemburu melakukannya disore hari.
Besoknya, mereka tinggal meringkus monyet2 yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan.

Kok, bisa ?

Monyet2 itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples.
Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang2 yang ada di dalam.
Tapi karena menggenggam kacang, maka monyet2 itu tidak bisa menarik keluar tangannya.

Selama mempertahankan kacang2 itu, selama itu pula mereka terjebak.

Toples itu terlalu berat untuk diangkat.
Jadi, monyet2 itu tidak akan dapat pergi kemana2..!

Sebenarnya monyet2 itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya, tapi mereka tak mau melepaskannya... 

*******

Saudaraku... 

Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah monyet2 itu.
Tapi, tanpa sadar sebenarnya banyak manusia melakukan hal yang sama seperti monyet2 itu.

Mereka mengenggam erat setiap permasalahan yang dimiliki tanpa mau melepaskannya. 

Mereka sering menyimpan dendam,
tak mudah memberi maaf,
tak mudah mengampuni.

Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada.
Sehingga tak pernah bisa melepasnya.

Bahkan, terkadang membawa "toples2" itu kemana pun mereka pergi.
Mereka terus berusaha berjalan menapaki jalan kehidupan ini dengan beban berat itu.

Tanpa sadar, mereka sebenamya sudah terperangkap penyakit kepahitan yang akut,
yg bisa berakibat pada mengerutnya sel2 tubuh mereka, dan putusnya benang2 DNA-nya.

Jika hal ini dibiarkan berlarut, maka kemungkinan besar sel2 yg mengerut tadi perlahan namun pasti, bermutasi menjadi sel2 KANKER...!

Penelitian ttg sel tubuh yg bermutasi menjadi sel kanker inilah yg mengantarkan Prof. Dr. Bruce Lipton, dari USA, menerima hadiah Nobel dlm bidang Biologi Molecular. 

Sebenarnya mereka akan selamat dari sakit berbahaya ini jika mereka mau melepaskan semua pikiran, perasaan dan emosi negatif (su'u zhan, kecemasan, sakit hati, marah, dendam, dll) terhadap siapapun.

Senin, 12 Februari 2018

NILAI SEBUAH BOTOL

Sebuah BOTOL
~Kalau diisi air mineral, harganya 3 ribuan...
~Kalau diisi jus buah, hargan ya 10 ribuan...
~Kalau diisi Madu, harganya ratusan ribu...
~Kalau diisi minyak wangi harganya bisa jutaan!.
~Kalau diisi air comberan, hanya akan dibuang dalam tong sampah karena tidak ada harganya...

Sama-sama dikemas dalam BOTOL tetapi berbeda nilainya, sebab "isi" yang ada di dalamnya berbeda...

Begitu juga dgn kita; semua sama... semua manusia...

Yang membedakannya adalah ; KARAKTER yg ada didalam diri kita.

Ilmu dan pemahaman yg benar akan membangun karakter yg benar.

Minggu, 04 Februari 2018

POHON JABATAN

Jika kamu berada dalam struktur organisasi, kerjakanlah posisimu sebaik mungkin!

Tak perlu merasa tak dihargai karena tak ditampilkan…

Organisasi itu ibarat POHON…

Jika posisimu sebagai batang, maka jadilah batang yg kokoh utk menopang pohon..

Jika posisimu sebagai cabang, maka jadilah cabang yg mampu menggandeng setiap ranting dan daun…

Jika posisimu sebagai daun, maka jadilah daun yg rimbun supaya pohon bermanfaat utk menaungi orang kepanasan…

Jika posisimu sebagai buah, maka jadilah buah yg manis supaya nama baik pohonmu terjaga..

Jika posisimu sebagai bunga, maka jadilah bunga yg merekah indah supaya pohonmu terhiasi dan dikenal orang…

Bahkan jika posisimu sebagai akar yg TAK TERLIHAT, maka jadilah akar yang kuat mencengkram ke tanah demi tegaknya seluruh struktur pohon tersebut…

Maka hendaknya semua anggota menanamkan rasa tanggung jawabnya, supaya tak saling iri terhadap satu tubuh…

Sebagaimana AKAR …

Walau dirinya tak terlihat, tertimbun tanah, dan sering terinjak orang..

Namun dirinya TAK PERNAH iri untuk menjadi BUNGA merekah yg ada di atas dan dikenal banyak orang…

Karena ia tahu, BUNGA pun beresiko utk dipetik orang tanpa tujuan..

Mari kita bersyukur dengan apa pun yang ditugaskan kepada kita…

Have a Time

Kamis, 01 Februari 2018

3 PRINSIP YANG MEMBUAT TENANG HIDUP KITA

Mutiara Al Qur'an

Assalamualaikum Wr Wb ....
Saudaraku yang dirahmati Allah ...

Ketenangan hati tidak bergantung pada harta yang melimpah, rumah yang mewah atau jabatan yang tinggi. Lagi-lagi semuanya bergantung pada pola pikir kita dalam menjalani kehidupan.

Bila kita meyakini prinsip-prinsip yang tepat, maka kesedihan dan kegelisahan hati tidak akan singgah lama dalam hati kita.

Yakini dan resapi tiga prinsip ini maka hati kita akan tenang dalam menghadapi segala masalah kehidupan.

Apa tiga prinsip itu?

*1. Yakinilah bahwa tidak ada yang lebih menyayangi kita melebihi Allah.*

فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Maka Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS.Yusuf:64)

*2. Tidak ada yang lebih mengetahui dalamnya kesedihan kita melebihi Allah.*

اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي أَنْفُسِهِمْ

“Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka.” (QS.Hud:31)

*3. Tidak ada yang mampu menyelesaikan masalahmu kecuali Allah.*

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan.” (QS.An-Naml:62)

Apabila tiga prinsip ini telah melekat kuat dalam hati kita, maka tidak akan ada lagi perasaan takut dan khawatir.

Kita selalu optimis bahwa yang paling menyayangi kita adalah Allah, maka mustahil Allah akan membiarkan kita dalam masalah.

Kita optimis bahwa tidak ada yang lebih mengetahui kesedihan dan rasa sakit kita melebihi Allah, maka mustahil Allah tidak mengobati kesedihan kita.

Kita yakin bahwa tidak seorang pun dapat menyelesaikan masalah kita kecuali Allah, lalu mengapa kita masih berharap kepada makhluk?