Jumat, 04 Januari 2019

MEMATAHKAN MITOS NEM, IPK dan RANGKING

Mematahkan Mitos NEM, IPK dan Rangking
Oleh : Prof Agus Budiyono

Ada tiga konsep yang tidak saya percayai sepenuhnya dalam sistem pendidikan yaitu: NEM, IPK dan rangking.

Saya mengarungi sistem pendidikan selama 22 tahun (1 tahun TK, 6 tahun SD, 6 tahun SMP-SMA, 4 tahun S1, 5 tahun S2&3) dan kemudian dilanjut mengajar selama 15 tahun di universitas di tiga negara maju (AS, Korsel, Australia) dan tanah air.

Saya menjadi saksi betapa tidak relevannya ketiga konsep di atas dengan apa yang secara normal didefinisikan sebagai kesuksesan.

Ternyata sinyalemen saya ini didukung oleh riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley yang memetakan 100 faktor yang akan berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang berdasarkan survey terhadap 733 millioner di US.

Berdasarkan hasil penelitian beliau ternyata nilai yang baik (yakni NEM, IPK dan tentu saja rangking) hanyalah faktor sukses no ke 30! Sementara itu faktor IQ pada urutan ke-21 dan bersekolah ke universitas/sekolah favorit di urutan ke-23. Jadi saya ingin mengatakan secara sederhana :
▪ Anak anda nilai matematikanya 45 ? Tidak masalah.
▪ Tidak lulus ujian fisika ?

Bukan masalah besar.
▪  NEM tidak begitu sesuai harapan ?
Paling banter akibatnya adalah tidak bisa masuk sekolah favorit.
Yang memang, menurut hasil riset, tidak terlalu pengaruh ke kesuksesan aniwei.

▪ IPK termasuk golongan dua koma (baik dua koma sembilan….belas maupun dua koma pas) ?
Jangan sedih. IPK pan hanya mitos.
Paling banter adalah hanya alat ukur.
Yang tidak akurat aniwei.

▪ Anak anda sekolah di SMA 11 dan bukan SMA 3 Bandung ?
Lalu apakah faktor yang menentukan kesuksesan seseorang itu ?

Menurut riset Stanley berikut ini adalah sepuluh faktor teratas yang akan mempengaruhi kesuksesan:
1. Kejujuran (Being honest with all people)
2. Disiplin keras (Being well-disciplined)
3. Mudah bergaul (Getting along with people)
4. Dukungan pendamping (Having a supportive spouse)
5. Kerja keras (Working harder than most people)
6. Kecintaan pada yang dikerjakan (Loving my career/business)
7. Kepemimpinan (Having strong leadership qualities)
8. Kepribadian kompetitif (Having a very competitive spirit/personality)
9. Hidup teratur (Being very well-organized)
10. Kemampuan menjual ide (Having an ability to sell my ideas/products)

Hampir kesemua faktor ini tidak terjangkau dengan NEM dan IPK.
Dalam kurikulum ini kita kategorikan softskill.
Biasanya peserta didik memperolehnya dari kegiatan ekstra-kurikuler.

Senin, 12 November 2018

AYAH KADANG - KADANG

Ayah Kadang-Kadang
9 Juni 2012  |  Sentuhan Budi Ashari

“Alhamdulillah…saya punya waktu yang cukup untuk anak saya,” kata sebagian ayah. Tentu menggembirakan mendengarnya. Tetapi, sayangnya kalimat ini masih berbuntut. “Tapi saya tidak tahu harus menjadi ayah seperti apa?” Oohhh… nampaknya seorang ayah yang sedang kebingungan tentang perannya sebagai ayah.

Kadang ayah, kadang bukan. Ayah kadang-kadang. Malah ada yang tidak terasa sama sekali keayahannya. Sang anak tidak merasa punya ayah. Yatim sebelum waktunya. Kalau lisan mereka boleh berucap, mereka akan berkata kepada bundanya: bunda, carikan aku ayah…
Berapa banyak ya, jumlah ayah di Indonesia seperti ilustrasi di atas? Banyak atau sedikit?

Nah, Anda sendiri tipe ayah yang mana?

Para ayah yang baik….
Mari kita terus belajar. Kalimat-kalimat di atas bukan untuk memojokkan apalagi hanya menyalahkan. Astaghfirullah…

Tetapi untuk melakukan evaluasi, berharap solusi untuk permasalahan dan petunjuk untuk peran keayahan. Untuk generasi yang lebih istimewa dari kita.

Ayah…sebagai pengingat kembali untuk kita, inilah kalimat Ibnu Qoyyim yang akan kita analisa kata per kata, “Betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya dan memfasilitasi syahwat (keinginannya), sementara dia mengira telah memuliakannya padahal dia telah merendahkannya.”

Kesengsaraan anak di dunia bahkan hingga di akhirat nanti karena hilangnya perhatian seorang ayah terhadap anaknya.

Perhatian…? Bukankah banyak para ayah yang merasa telah memperhatikan anaknya? Di mana kurangnya?

Ya, perhatian itu berbagai macam bentuknya.
Ada perhatian secara fisik dengan sentuhan mantap atau ekspresi wajah seorang ayah.
Ada secara fasilitas hidup dengan sarana yang disediakan oleh ayah.

Ada sapaan menyejukkan di pagi hari dan ucapan selamat atas prestasi dengan lisan ayah.

Ada doa yang mengalir dari ketulusan hati seorang ayah.

Ini bukan pilihan, tetapi harus dilaksanakan semua. Sekarang para ayah tahu bukan, mengapa perhatian ayah masih dianggap kurang. Karena masih memilih satu atau beberapa saja. Biasanya hanya perhatian fasilitas hidup yang dipilih.

Kalau boleh, saya membagi perhatian menjadi tiga macam:

Perhatian dalam bentuk kuantitas

Perhatian dalam bentuk kualitas

Perhatian dalam sunyi

Perhatian dalam bentuk kuantitas, artinya kehadiran fisik sang ayah. Demikian juga pemenuhan fasilitas hidup yang merupakan kewajiban ayah.
Sang anak bisa menatap wajah ayahnya. Bisa menyentuh tubuh ayah. Bisa meraba rambut ayah. Bisa menggandeng tangan ayah.
Sang anak bisa mendapatkan fasilitas untuk belajarnya, sekolahnya, bermainnya, komunikasinya, kebutuhan hidup sehari-harinya.

Perhatian kuantitas itu ibarat wadah. Kalau wadah itu belum ada, bagaimana seorang ayah bisa mengisi anaknya dengan misi kebaikan?

Untuk poin ini, masalah muncul pada ayah yang sibuk atau bekerja di luar kota jauh dari anak-anaknya dan jarang ada pertemuan fisik. Bagaimana solusinya? Sabar ya ayah…insya Allah akan kita bahas pada tulisan berikutnya. Tetapi mohon dijauhkan dulu kalimat apologis, “Yang penting kualitas pertemuan. Buat apa kuantitas pertemuan sering, tetapi tidak berkualitas.” Karena bukan itu jawabannya!

Perhatian dalam bentuk kualitas, artinya kehadiran fisik dan pemenuhan fasilitas itu harus ada ruhnya. Bukan pertemuan kosong. Permainan tanpa visi. Jalan-jalan tanpa misi. Duduk tanpa dialog. Pembicaraan tanpa nilai.

Perhatian kuantitas itu ibarat wadah. Kalau sudah ada, jangan sampai tidak diisi dengan misi kebaikan. Sayang…
Untuk poin ini, akan kita bahas detailnya sepanjang kita belajar bersama tentang keayahan.

Perhatian dalam sunyi, artinya sang ayah tetap menyediakan ruang yang lapang dalam hati dan lisannya saat ia sendirian. Dalam perencanaan hidupnya, dalam doa dan dzikirnya.

Saat nanti kita belajar tentang Ibrahim, para ayah akan tahu betapa Ibrahim ayah dahsyat itu selalu membasahi lisannya dengan doa untuk generasinya. Dalam sendirinya. Dalam kesunyiannya. Dari hatinya yang paling dalam.

Untuk poin ini, para ayah tinggal belajar bermacam doa untuk generasi dan terus berupaya mendekatkan diri kepada Allah.
Wadah yang telah terisi itu, semakin terlihat indah dengan hiasan yang mengitarinya.
Nah, ini ada hasil penelitian tentang anak yang ‘tidak punya’ ayah:

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kalter dan Rembar di Rumah Sakit Jiwa Anak, (University of Michigan), dari sampel 144 anak dan remaja awal yang orang tuanya bercerai, sering mengalami tiga hal:

63% masalah psikologis subjektif (didefinisikan sebagai kecemasan, kesedihan, suasana hati yang mudah berubah-ubah, fobia, dan depresi) 56% Prestasi rendah atau prestasi di bawah kemampuan yang pernah dicapainya 43% Melakukan agresi kepada orang tua (Clinical Observations on Interferences of Early Father Absence in the Achievement of Femininity by R. Lohr, C. g, A. Mendell and B. Riemer, Clinical Social Work Journal, V. 17, #4, Winter, 1989)

Para ayah yang baik…

Yuk ah, kita belajar kepada Rasulullah. Shalih bin Awwad al-Maghamisi (al-Ayyam an-Nadzirah wa as-Siroh al-Athiroh, h. 51, MS) menjelaskan, “Fathimah putri yang paling dicintai Nabi shallallahu alaihi wasallam. Imam adz-Dzahabi ketika menuliskan biografi Fathimah dalam al-a’lam berkata: (Dia adalah bagian dari kenabian dan pilihan). Fathimah adalah orang yang paling mirip cara jalannya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Rasulullah mencintainya, memuliakannya, mengagungkannya, jika dia mendatangi Rasul beliau menciumnya dan memeluknya. Fathimah adalah bagian dari beliau, Rasul berkata: (Fathimah bagian dari diriku, apa saja yang membuatnya gundah juga akan membuatku gundah, apa saja yang menyakitinya juga menyakitiku), atau kalimat yang semisalnya.”

Penggambaran singkat ini, menggambarkan jelas bahwa Rasul hadir secara fisik, memperhatikannya, mampu bersatu dalam rasa dengan putrinya.

Mari kita semua menjadi para ayah yang bisa dirasakan kehadirannya. Bukan saja pada fasilitas hidup. Tetapi dalam seluruh lembaran kehidupan anak-anak kita.

Happy Father Day...

Jumat, 09 November 2018

KEGEMBIRAAN DALAM BELAJAR

Prof Agus Budiyono
KOLOM : Mematahkan Mitos NEM, IPK dan Rangking

Ada tiga konsep yang tidak saya percayai sepenuhnya dalam sistem pendidikan yaitu: NEM, IPK dan rangking. Saya mengarungi sistem pendidikan selama 22 tahun (1 tahun TK, 6 tahun SD, 6 tahun SMP-SMA, 4 tahun S1, 5 tahun S2&3) dan kemudian dilanjut mengajar selama 15 tahun di universitas di tiga negara maju (AS, Korsel, Australia) dan tanah air. Saya menjadi saksi betapa tidak relevannya ketiga konsep di atas dengan apa yang secara normal didefinisikan sebagai kesuksesan. Ternyata sinyalemen saya ini didukung oleh riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley yang memetakan 100 faktor yang akan berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang berdasarkan survey terhadap 733 millioner di US.

Berdasarkan hasil penelitian blio ternyata nilai yang baik (yakni NEM, IPK dan tentu saja rangking) hanyalah faktor sukses no ke 30! Sementara itu faktor IQ pada urutan ke-21 dan bersekolah ke universitas/sekolah favorit di urutan ke-23. Jadi saya ingin mengatakan secara sederhana :

1. Anak anda nilai matematikanya 45? Tidak masalah.

2. Tidak lulus ujian fisika? Bukan masalah besar.

3. NEM tidak begitu sesuai harapan? Paling banter akibatnya adalah tidak bisa masuk sekolah favorit. Yang memang, menurut hasil riset, tidak terlalu pengaruh ke kesuksesan aniwei.

4. IPK termasuk golongan dua koma (baik dua koma sembilan….belas maupun dua koma pas)? Jangan sedih. IPK pan hanya mitos. Paling banter adalah hanya alat ukur. Yang tidak akurat aniwei.

5. Anak anda sekolah di SMA 11 dan bukan SMA 3 Bandung? No worries. Anak cemerlang akan tetap menemukan bakatnya di mana saja berada.

6. Anak anda lulusan universitas swasta di Jakarta dan bukan di Harvard? Not a big deal. Steve Jobs dan Bill Gates tidak lulus dari mana-mana.

Anak anda pernah tidak naik kelas atau mengulang mata kuliah? Oooh ini banyak temannya. Hampir semua teman kuliah saya di ITB ada di golongan ini. Termasuk saya, yang pernah tinggal kelas atau mengulang beberapa mata kuliah di ITB dulu. Tidak pengaruh sama sekali. Paling akibatnya adalah tidak bisa dapat predikat Cum Laude. Yang tentunya, menurut saya, hanya predikat yang sifatnya hanya untuk lucu-lucuan saja. Nothing serious, karena menurut penelitian itu sama sekali tidak termasuk dalam 100 faktor tadi.

Atau yang agak serius, anak anda tidak selesai kuliahnya? Baiklah saya akan membagi. Banyak para dropout yang akhirnya menjadi orang besar yang karyanya sekarang anda pakai. Ya, sekarang ini, sebagian malah sedang anda pakai untuk membaca essay ini (Iphone, Ipad, Ipod, PC, Macbook, Windows, OS, Oracle software…dsb). Mereka adalah orang-orang yang tidak selesai pendidikan formalnya. Thomas Edison adalah inventor yang paling produktif sepanjang sejarah manusia. Namanya ada pada lebih dari 1000 patent. Blio antara lain adalah penemu bola lampu, video camera, dan telepon. Ibunya mengajari Thomas kecil membaca dan menulis di rumah sesudah dia dikeluarkan dari sekolah karena gurunya menganggap dia terlalu lamban belajar. Pendidikan formal yang diselesaikan adalah 3 bulan di high school.

Wright Brothers adalah yang diterima secara aklamasi oleh dunia sebagai penemu “mesin terbang”. Merekalah yang pertama kali menerbangkan pesawat udara pertama. Batu bata pertama dari industri pesawat terbang yang kelak akan menjadi Boeing dan Airbus. Keduanya belajar di high school tapi tidak pernah lulus. Waktunya dihabiskan untuk mengamati dan meneliti bagaimana burung itu bisa terbang dan ngoprek di bengkelnya membuat berbagai jenis gliders.

Bill Gates adalah seorang droupout yang merevolusi industri komputer. Bersama Paul Allen mendirikan Microsoft. Paul hanya menyelesaikan 2 tahun pertama di University of Washington dan membujuk Bill untuk keluar dari Harvard (dan berhasil) pada tingkat 2. Keduanya menjadi billionaire pada usia awal 30an. Michael Dell drop out dari University of Texas pada umur 19 untuk mendirikan Dell Inc. perusahaan komputer yang termasuk paling sukses di Amerika. Steve Jobs memperkenalkan Macintosh kepada dunia dan menjadi tokoh kunci dari revolusi industri komputer. Salah satu karya kreatifnya adalah teknologi tablet (iPad) dan smart phone (iPhone) yang lantas ditiru oleh perusahaan2 raksasa dunia lainnya (Microsoft, Samsung, LG, Sony, Huawei, Oppo, Xiaomi, dll). Karyanya memberi impact kepada lebih dari 2 milyar penduduk dunia.

Contoh terakhir adalah yang paling kontekstual. Tanpa blio kita tidak bisa memanfaatkan dan menikmati platform media sosial yang paling user friendly dan efektif untuk ajang berinteraksi secara tertulis, arena untuk berlatih menulis dan medium untuk presentasi dan bisnis. Mark Zuckerberg hanya menyelesaikan dua tahun pertama di Harvard sebelum memutuskan untuk mendirikan dan membesarkan Facebook. Beautiful and highly effective platform yang sekarang bisa kita manfaatkan dengan luas.

Lalu apakah faktor yang menentukan kesuksesan seseorang itu? Menurut riset Stanley berikut ini adalah sepuluh faktor teratas yang akan mempengaruhi kesuksesan :
1. Kejujuran (Being honest with all people)
2. Disiplin keras (Being well-disciplined)
3. Mudah bergaul (Getting along with people)
4. Dukungan pendamping (Having a supportive spouse)
5. Kerja keras (Working harder than most people)
6. Kecintaan pada yang dikerjakan (Loving my career/business)
7. Kepemimpinan (Having strong leadership qualities)
8. Kepribadian kompetitif (Having a very competitive spirit/personality)
9. Hidup teratur (Being very well-organized)
10. Kemampuan menjual ide (Having an ability to sell my ideas/products)

Hampir kesemua faktor ini tidak terjangkau dengan NEM dan IPK. Dalam kurikulum ini kita kategorikan softskill. Biasanya peserta didik memperolehnya dari kegiatan ekstra-kurikuler.

Saya mengajarkan wawasan ini sebagai bagian dari mata kuliah saya apapun subyek atau topiknya di tanah air maupun di negara maju tempat saya mengajar. Karena saya yakin bila peserta didik sudah bisa masuk ke track atau rel yang tepat dan frekuensi yang pas, everything else follows naturally. Dalam konteks ini saya ingin menggarisbawahi faktor “kecintaan pada apa yang dikerjakan” yang ternyata mempunyai pengaruh sangat tinggi (urutan ke-6) yang menentukan kesuksesan seseorang. Saya sangat mempercayai ini karena saya telah mengujinya selama 40 tahun terakhir karir saya sendiri maupun mahasiswa-mahasiswa maupun junior yang saya bimbing. Saya menemukan bahwa bila kita bisa menemukan ‘klik’ pada apa yang kita kerjakan maka kita akan mempunyai supply endorfin yang tidak ada habis-habisnya. Itu hukum alam. Kita hanya perlu menemukannya sekali dan setelah itu kita akan bergerak bersama semesta. Ada orang yang membahasakan Tuhan bersama kita. Kita akan bangun jam 4 setiap pagi dalam kondisi segar dan baterei penuh untuk bisa menaklukkan dunia pada hari itu. We will be somebody to whom the devil would say,”Damn, she is up”, upon our getting up in the morning. Kita akan menjadi seseorang yang tidak bisa dihalangi. Unstoppable. Menjadi orang yang gagal tujuh kali dan bangun delapan kali.

Ini resep yang senantiasa saya bagi dalam kuliah saya. Setiap kuliah saya akan saya tailor berdasarkan audiens yang ada di depan saya. Dalam kuliah di Universitas Teknologi Sumbawa beberapa minggu yang lalu, saya paham sekali bahwa yang diperlukan di sana adalah suntikan motivasi. Persis seperti prinsip yang saya gambarkan di atas. Misinya membawa peserta didik ini ke track yang benar dan frekuensi yang pas. All the technicalities follow. Bahan-bahan tekniks selalu bisa dicari dan dipelajari secara mandiri. Tapi landasan spirit dan motivasi harus kuat terpancang. Hal ini pula yang dititipkan oleh pak Direktur dan Co-founder UTS (bersama pak Gubernur Zulkieflimansyah). Saya mengerti dan paham saya berbicara di Nusa Tenggara Barat bukan Jawa Barat, semua faktornya berbeda. Harapannya berbeda. Kendalanya tidak sama. Sumberdayanya berbeda. Namun ada mimpi yang sama: menjadi contender dalam dunia yang serba berubah dengan cepat ini. Thriving. Not only surviving. Apapun kondisinya dan dari mana saja titik mulainya.

Saya membaca seseorang tidak harus dari resumenya. Seringkali cukup dari aura ketika mereka saya ajak bicara. Ketika sesi kuliah umum di depan ratusan mahasiswa, acara dimulai dengan pemutaran video dipandu Pak Direktur yang menayangkan peristiwa bersejarah dimana beberapa tahun silam tim Sumbawagen UTS berhasil meraih medali perunggu, best policy and practice shout-out dan Chairman's awards 2014 pada sebuah kompetisi bergengsi di MIT. Saya lantas diperkenalkan sebagai seseorang yang belajar dan bekerja di MIT selama hampir 10 tahun. Di kelas saya di UTS saya membaca adanya semangat. Adanya keberanian untuk bermimpi. Mimpi yang besar. Ini harus didukung agar sustainable. Oleh karena itu saya pagi itu memulai kuliah saya dengan kalimat pembuka: saya dulu ketika kecil telat dan lama tidak bisa membaca. Saya akan bercerita bagaimana seorang yang didera ADHD kemudian bisa bangkit dan tumbuh sehingga mempunyai empat gelar akademis, dua dari MIT. If I can do it, you can too. Tidak perlu risau dengan titik mulai sebagai daerah tertinggal dengan index kemajuan no 2 dari belakang. Index ini mirip NEM, IPK dan rangking yang tidak perlu sepenuhnya kita percayai. Fokus saja tiap hari untuk mencari kegembiraan.

Dalam dua hari kelas saya di UTS belajar dengan penuh kegembiraan. Saya bisa merasakannya. Dan saya tahu, dengan kegembiraan itu mereka akan bisa berjalan jauh dan mencapai sesuatu yang tinggi.

Selasa, 16 Oktober 2018

Nasehat Bijaksana Bob Sadino (1933-2015)


1. Membawa selusin bodyguard bukan jaminan keamanan. Tapi rendah hati, ramah, dan tidak mencari musuh, itulah kunci keamanan yang hakiki.

2. Obat dan vitamin bukan jaminan hidup sehat. Jaga ucapan, jaga hati, istirahat cukup, makan dengan gizi seimbang dan olahraga yang teratur, itulah kunci hidup sehat.

3. Rumah mewah bukan jaminan keluarga bahagia. Saling mengasihi, menghormati, dan memaafkan, itulah kunci keluarga bahagia.

4. Gaji tinggi bukan jaminan kepuasan hidup. Bersyukur, berbagi, dan saling menyayangi, itulah kunci kepuasan hidup.

5. Kaya raya bukan jaminan hidup terhormat. Tapi jujur, sopan, murah hati, dan menghargai sesama, itulah kunci hidup terhormat.

6. Hidup berfoya-foya bukan jaminan banyak sahabat. Tapi setia kawan, bijaksana, mau menghargai, menerima teman apa adanya dan suka menolong, itulah kunci banyak sahabat.

7. Kosmetika bukan jaminan kecantikan. Tapi semangat, kasih, ceria, ramah, dan senyuman, itulah kunci kecantikan sejati.

8. Satpam dan tembok rumah yang kokoh bukan jaminan hidup tenang. Hati yang damai, kasih dan tiada kebencian itulah kunci ketenangan dan rasa aman.

9. Hidup kita itu sebaiknya ibarat “bulan & matahari”—dilihat orang atau tidak, ia tetap bersinar. Dihargai orang atau tidak, ia tetap menerangi. Diterimakasihi atau tidak, ia tetap “berbagi”.

10. Jika Anda bilang Anda susah, banyak orang yang lebih susah dari Anda. Jika Anda bilang Anda kaya, banyak orang yang lebih kaya dari Anda. Di atas langit, masih ada langit. Suami, istri, anak, jabatan, harta adalah “titipan sementara”. Itulah kehidupan.

11. Nikmatilah hidup selama Anda masih memilikinya dan terus belajar untuk bersyukur dengan keadaanmu! Karena Anda tidak akan tahu kapan Sang Pemilik Raga akan datang dan mengatakan pada Anda, “Ini saatnya pulang!”—memaksa Anda meninggalkan apa pun yang Anda cintai, dan Anda banggakan, serta sombongkan.

Sumber: andriewongso.com

Semangaattt
Mareee kita Bermetamorfosis menjadi pribadi yg bersinar & lbh baik lagi....

Rabu, 25 Juli 2018

POSITIF Vs NEGATIF


Medan peperangan terbesar ada di pikiran manusia. Karena  Pikiran itu sangat kuat dan dapat mempengaruhi kehidupan seseorang.

Ada ungkapan mengatakan : ”Menabur dalam pikiran akan menuai tindakan; menabur tindakan akan menuai kebiasaan; menabur kebiasaan akan menuai karakter.”

Pikiran kita seperti  tanah; tanah tidak pernah peduli jenis benih apa yang hendak kita tanam.

Jika kita menabur benih jagung, maka  tanah akan meresponsnya, lalu menumbuhkannya.

Apapun yang kita tanamkan dalam pikiran, entah itu hal-hal yang baik atau buruk, pikiran kita akan segera menerima, merespons dan menumbuhkannya.

Sadar atau tidak, seringkali kita memperkatakan hal-hal buruk tentang diri kita sendiri, misalnya: hidupku penuh masalah, aku tidak akan berhasil, sakitku tidak akan sembuh, keluargaku hancur berantakan, aku bodoh, miskin, masa depanku suram, dsb.

Hal-hal negatif yang kita ucapkan itu akan direspons oleh pikiran kita dalam bentuk sikap dan tindakan, yang pada gilirannya akan menghasilkan sesuatu yang sama seperti yang kita tanamkan dalam pikiran kita.
                           
Oleh sebab itu mari kita tanamkan hal yang positif dibenak kita, maka kita akan menjadi orang-orang yang menang, bahkan Lebih dari Pemenang !

KOPI PAGI

Cara Allah menyayangimu bukan dengan meringankan masalahmu, tapi dengan menguatkan jiwamu sehingga sehebat apapun masalahmu kau tetap bertahan dan tak menyerah.

Cara Allah menyayangimu bukan dengan mengurangi beban yang kau pikul, tapi dengan mengokohkan pundakmu, sehingga kau mampu memikul amanah yang diberikan kepadamu,

Cara Allah menyayangimu mungkin tak dengan memudahkan jalanmu menuju sukses, tapi dengan kesulitan yang kelak baru kau sadari bahwa kesulitan itu yang akan membuatmu semakin berkesan dan istimewa.

Hidup itu ...
Butuh masalah supaya kita punya kekuatan.
Butuh pengorbanan supaya kita tahu cara bekerja keras.
Butuh air mata supaya kita tahu merendahkan hati.
Butuh dicela supaya kita tahu bagaimana cara menghargai.
Butuh tertawa supaya kita tahu mengucap syukur,
Butuh senyum supaya tahu kita punya cinta,
Butuh orang lain supaya tahu kita tidak sendiri

Beberapa luka tidak diciptakan untuk sembuh, tidak pula untuk menetap.

Jika ia berakhir dengan ke IKHLASAN, ia akan lahir menjadi cahaya yang itu adalah hadiah terindah dari Allah.

Berbahagialah pada taqdir dengan penerimaan yang tulus, Sungguh mengajari hati BERBAIK SANGKA itu Indah.

Niscaya kita semua diberikan keselamatan, kesehatan, kekuataan, kesabaran dan rezeki yang melimpah, Aamiin.

Awali  pagi ini dengan doa dan hati yg ikhlas.

Selasa, 10 Juli 2018

Hidup Adalah Proses Ujian Menuju Derajat Kepantasan

"Hidup Adalah Proses Ujian Menuju Derajat Kepantasan"

Ketika hidupmu sedang terpuruk, pada saat itulah kamu berada dalam posisi  sempurna untuk berdoa.

Hidup adalah sebuah ujian, jika Allah menjawab doa-doamu, berarti Allah ingin meningkatkan keimananmu.

Jika Allah menunda menjawab doamu, berarti Allah ingin meningkatkan kesabaranmu.

Jika Allah tidak menjawab doamu, maka yakinlah bahwa Allah memiliki rencana yang lebih baik untukmu.

Ada sumur yang pengap yang menghantarkan kesuksesan Nabi Yusup, Ada  api Menyala untuk kesabaran Nabi Ibrahim, ada Fir'aun yang zalim untuk Ketabahan Nabi Musa sampai terbelah Laut merah.

Dan bisa jadi ada sebuah masalah besar yang dititipkan Allah untukmu hari ini karena Allah ingin dekat denganmu setelah selama ini engkau ABAI dan semakin jauh.

Selalu ada pesan CintaNya yang dititipkan Melalui Ujiannya untukmu