Senin, 03 April 2017

MEMUTUS SIKLUS ANAK NAKAL

Memutus siklus anak nakal ?

Saat minum bareng teman yg juga  seorang motivator,  di teras belakang rumah, iseng-iseng saya buka obrolan dengan satu kalimat tanya. "Mengapa anak baik biasanya semakin baik, dan anak nakal biasanya semakin nakal ya mas ?"

Teman bernama Dodik itu mengambil kertas dan spidol, kemudian membuat beberapa lingkaran-lingkaran. "Wah suka banget, bakalan jadi obrolan berbobot nih", pikir saya ketika melihat kertas dan spidol di tangan mas Dodik.

Mas Dodik mulai menuliskan satu hadis :

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua”

Artinya setiap anak yang baik, pasti membuat ridho orang tuanya, hal ini akan membuat Allah ridho juga. Tapi setiap anak nakal pasti membuat orang tuanya murka dan itu akan membuat Allah murka juga.

"Kamu pikirkan implikasi berikutnya dan cari literatur yang ada untuk membuat sebuah pola", tantang mas Dodik ke saya. Waaah pak dosen mulai menantang anak baik ya, suka saya.

Setelah membolak balik berbagai literatur yang ada, akhirnya saya menemukan satu tulisan menarik karya  kakak kelas mas Dodik, yaitu mas Dr. Agus Purwanto DSc. Ia menulis,  bahwa anak nakal dan anak baik itu bergantung pada ridho dan murka orang tuanya.

Akhirnya kami berdua mengolahnya kembali, membuatnya menjadi siklus anak baik (lihat gambar siklus 1) dan siklus anak nakal ( lihat siklus 2). Siklus Anak Baik ( siklus 1)

Anak Baik -> orang tua ridho -> Allah ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak makin baik

Siklus anak nakal (siklus 2)

Anak nakal -> orang tua murka -> Allah murka -> keluarga tidak berkah -> tidak bahagia -> anak makin nakal

Kalau tidak ada yang memutus siklus tersebut, maka akan terjadi pola anak baik akan semakin baik, anak nakal akan semakin nakal.

Bagaimana cara memutus siklus anak nakal ? Ternyata kuncinya bukan pada anak melainkan pada ORANG TUANYA.

Anak nakal -> ORANG TUA RIDHO->Allah ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak jadi baik.

Berat? Iya, maka nilai kemuliaannya sangat tinggi. Bagaimana caranya kita sebagai orang tua/guru bisa ridho ketika anak kita nakalv?

Ini kuncinya :

Bila kalian memaafkannya, menemuinya dan melupakan kesalahannya...maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 64:14).

Caranya orang tua ridho adalah menerima anak tersebut, memaafkan dan mengajaknya dialog, rangkul dengan sepenuh hati, terakhir lupakan kesalahannya.

Kemudian sebagai pengingat selanjutnya, kami menguncinya dengan pesan dari Umar bin Khattab :

Jika kalian melihat anakmu/anak didikmu berbuat baik, maka puji dan catatlah, apabila anakmu/anak didikmu berbuat buruk, tegur dan jangan pernah engkau mencatatnya.

"Ya Allah, aku bersaksi bahwa aku ridho kepada anakku (dg menyebutkan nama anak) dg ridho yang paripurna, ridho yg sempurna dan ridho yg paling komplit. Maka turunkanlah ya Allah keridhoan-Mu kepadanya demi ridhoku kepadanya."

Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah anak belum tahu.

Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah orang tua yang tak sabar.

Tak ada anak nakal, yang ada hanyalah pendidik yang terburu-buru melihat hasil.

Semoga bermanfaat
Barakallahu fiikum..

Minggu, 02 April 2017

INGIN ANAK ANDA DISIPLIN SHOLAT 5 WAKTU

Ingin Anak Disiplin Shalat 5 Waktu, Ini Tipsnya

Semua orangtua mendambakan anak – anaknya disiplin menjalankan sholat, karena pendidikan anak akan dimintakan pertanggungjawaban oleh Allat Ta’ala, juga agar setelah meninggal ia mendapatkan aliran pahala dari amal shaleh yang dikerjakan anaknya. Tetapi realita di depan kita banyak sekali yang sudah besar bahkan berat sekali mealkukan sholat.

Tips berikut bisa dicoba:

1- Prinsip Penting

Pertama, bahwa mendidik anak untuk sholat harus dimulai sejak dini, tetapi bagi yang baru sadar maka tidak ada kata terlambat, mulai sekarang juga. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menyuruh kita mengajari anak sholat usia 7 tahun. Tetapi bukan berarti sebelum atau sesudah usia itu terlarang, yang penting saat baligh dia sudah melakukan, karena catatan amal ditulis sejak usia baligh.

Prinsip kedua, bahwa hakekat medidik shalat adalah mengenalkan dan membiasakan anak agar melakukan shalat dalam waktu lama (disertai pemahaman yang tepat tentangnya) sehingga jiwa anak terbiasa dan merasa nyaman dengannya, serta jiwanya akan gelisah jika belum melakukannya.

2- Mulai Dengan Keteladanan

Anak tumbuh dari meniru apa yang dilihat, maka jangan sia siakan. Saat sang ibu sholat maka biarkan ia di dekatnya dan menyaksikannya, saat sudah mulai bisa meniru maka ajaklah ia di sampingnya dan lama kelamaan pasti akan menirukan gerakannya. Saat kondisi memungkinkan (bisa diarahkan untuk tidak ribut) maka ajaklah shalat berjamaah ke masjid bersama ayahnya. Karena ini pembiasaan maka kalau sedang tidak mau jangan dipaksa, karena akan membuatnya tidak suka. Kondisikan kedekatan dan kasih sayang terjaga sehingga anak anak nyaman dan percayalah bahwa tahapan ini akan menjadi sebab terbesar anak-anak ringan menjalankan sholat nantinya.

3- Disemangati

Pemberian reward atau penghargaan termasuk bagian dari menyemangati. Penyemangat bisa berupa sesuatu yang ia sukai baik mainan maupun makanan (yang bermanfaat dan sehat) tetapi bisa juga yang bersifat non fisik seperti pujian tulus, perhatian yang lebih, dan lain sebagainya. Reward ini sifatnya kondisional dan sementara untuk mempertahankan anak pada saat membiasakan hingga ia menikmati.

4- Difahamkan

Sambil jalan anak-anak diberi pemahaman dan keilmuan tentang shalat sesuai tingkatan umurnya. Bahwa shalat adalah kebutuhan jiwa, banyak sekali manfaatnya, jalan masuk surga, bukti kecintaan dan ketundukan kepada Sang Pencipta kita dan pencipta jagat raya seluruhnya, hingga pada akhirnya dikenalkan bahwa shalat sebagai salah satu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Sambil juga dikenalkan kepadanya dasar Tauhid, dimulai dari yang dasar; tentang kecintaan kepada Allah Ta’ala, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, Islam, akherat, dan sebagainya. Dari sini anak-anak mulai memiliki pemahaman yang lebih utuh tentang shalat dan urgensinya, disamping ia sudah mulai membiasakannya.

5- Lingkungan Dan Klarifikasi

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menegaskan pentingnya shahabat karib yang baik, dan dalam masalah shalat pun sama. Anak-anak kita sedikit banyak akan terpengaruh oleh lingkungan dan kawan-kawannya, sehingga separoh dari tugas besar ini adalah menjaga dan meminimalisir anak-anak kita dari pergaulan dengan anak-anak yang tidak sholat karena mereka akan menularkan prinsipnya yang negatif.

Tidak kalah penting adalah kita memberikan klarifikasi dan penjelasan jika ada (dan pasti ada) orang yang tidak sholat dan diketahui anak kita. Karen jika tidak ada penjelasan maka anak akan confuse mengapa saya sholat sementara ada kawan lain atau bahkan orang sudah besar kok tidak sholat. Bisa kita jelaskan bahwa mereka itu harusnya sholat tetapi karena ayah ibunya dulu tidak mengajari sehingga dia tidak tahu dan tidak mampu melaksanakannya, ia harus bersyukur (Abi-Umi nya) mengajarkannya serta mengajak mendoakan hidayah bagi orang yang dilihatnya tidak sholat itu. Begitu pula saat sang ibu atau kakak perempuannya datang bulan perlu dijelaskan agar semua clear dan jiwanya faham serta merasa mantap tanpa syubhat sedikitpun.

6- Komunikasi, Kedekatan dan Kasih Sayang

Semua proses dan tips diatas akan relatif berjalan baik –ba’dallah- tergantung kualitas komunikasi, kedekatan dan kasih sayang kita kepada anak-anak. Maka setiap orangtua harus terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas komunikasi, kedekatan dan kasih sayang kepada anak-anaknya.

7- Doa

Seluruh urusan ada dalam kekuasaan Allah Ta’ala, DIA lah yang memberi kemudahan, keberkahan dan hidayah. Maka termasuk penyempurna ikhtiar kita adalah mendoakan anak-anak agar menjadi anak yang shaleh dan taat kepada Allah Ta’ala, diringankan untuk shalat dan diberi kesitiqomahan hingga akhir hayatnya. Pilihlah waktu-waktu mustajab seperti di sepertiga malam terakhir, antara adzan dan iqomah, saat berbuka puasa, dan lainnya. Doa orang tua adalah termasuk doa yang kans nya sangat besar untuk diijabah oleh Allah Ta’ala.

Ketujuh tips diatas menggambarkan keseimbangan ihktiar fisik dan ihktiar non fisik (psikologis bahkan doa), dan kegagalan banyak orang sering diakibatkan karena hanya mengandalkan satu ikhtiar saja melalaikan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala merahmati anak-anak kita dan seluruh anak-anak kaum muslimin dan menjadikan mereka semua ahli sholat dan menjadi jariyah pahala yang pahalanya terus mengalir hingga setelah kematian kita orangtuanya.

BILA SAYA SUDAH TUA

Kalau anak² sudah berkeluarga & meninggalkan kita, giliran kita untuk kembali memikirkan diri kita sendiri...

1. Bila Kita Tua...
Luangkan waktu bersama pasangan 🎎 kita karena salah seorang dari kita akan pergi lebih dahulu & yg masih hidup hanya mampu menyimpan kenangan yg indah...

2. Bila Kita Tua...
Akan tiba masanya mau berjalan ke pintu saja susah, sementara masih berkemampuan, jalan²lah ⛱ ke beberapa tempat untuk mengingatkan kita tentang kebesaran Allah, untuk mengagumi keindahan ciptaan NYA...

3. Bila Kita Tua...
Jangan susahkan diri memikirkan anak² secara berlebihan. Mereka akan mampu berusaha sendiri. Cuma tentukan hutang Kita lunas sebelum meninggal dunia supaya mereka Tidak menanggung beban yg anda tinggalkan!

4. Bila Kita Tua...
Luangkan waktu bersama rekan² lama karena peluang untuk bersama itu akan berkurang dari waktu ke waktu...

5. Bila Kita Tua...
Terimalah penyakit apa adanya karena semua sama, kaya atau miskin akan melalui proses yg sama, yaitu: lahir bayi, kanak², dewasa, tua, sakit & mati ⚰

Nasihat Bijak...
"Cari Kawan yg seperti Cermin, kita Gembira dia Gembira, kita Sedih dia ikut Sedih. Jangan cari Kawan yg seperti Duit Logam: *Depan Lain Belakang Lain

PETUAH KOPI

Kyai : Tolong buatkan kopi dua gelas untuk kita berdua, tapi gulanya jangan engkau tuang dulu, bawa saja ke mari beserta wadahnya.

Santri : Baik, kyai.

Tidak berapa lama, sang santri sudah membawa dua gelas kopi yang masih hangat dan gula di dalam wadahnya  beserta sendok kecil.

Kyai : Cobalah kamu rasakan kopimu nak , bagaimana rasa kopimu?

Santri : rasanya sangat pahit sekali kyai

Kyai : Tuangkanlah sesendok gula, aduklah, bagaimana rasanya?

Santri : Rasa pahitnya sudah mulai berkurang, kyai.

Kyai : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Santri : Rasa pahitnya sudah berkurang banyak, kyai.

Kyai : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Santri : Rasa manis mulai terasa tapi rasa pahit juga masih sedikit terasa, kyai.

Kyai : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Santri : Rasa pahit kopi sudah tidak terasa, yang ada rasa manis, kyai.

Kyai : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Santri : sangat manis sekali, kyai.

Kyai : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Santri : Terlalu manis. Malah tidak enak, kyai.

Kyai : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Santri : rasa kopinya jadi tidak enak, lebih enak saat ada rasa pahit kopi dan manis gulanya sama-sama terasa, kyai.

Kyai : Ketahuilah nak.. pelajaran yg dapat kita ambil dari contoh ini adalah.. jika rasa pahit kopi ibarat kemiskinan hidup kita, dan rasa manis gula ibarat kekayaan harta, lalu menurutmu kenikmatan hidup itu sebaiknya seperti apa nak?

Sejenak sang santri termenung, lalu menjawab.

Santri : Ya kyai, sekarang saya mulai mengerti, bahwa kenikmatan hidup dapat kita rasakan, jika kita dapat merasakan hidup seperlunya, tidak melampaui batas. Terimakasih  atas pelajaran ini, kyai.

Kyai : Ayo santriku, kopi yg sudah kamu beri gula tadi, campurkan dengan kopi yang belum kamu beri gula, aduklah, lalu tuangkan dalam kedua gelas ini, lalu kita nikmati segelas kopi ini.

Sang santri lalu mengerjakan perintah kyai.

Kyai : Bagaimana rasanya?

Santri : rasanya nikmat, kyai...

Kyai : Begitu pula jika engkau memiliki kelebihan harta, akan terasa nikmat bila engkau mau membaginya dengan yang memerlukan.

Santri : Terima kasih atas petuahnya, kyai.

Selamat ngopi
☕☕☕

TUHAN DAN ARWAH

Seorang manusia meninggal...

Ketika ia menyadarinya, ia melihat Tuhan mendekati dirinya dg sambil memegang sebuah koper di tangan-Nya.

Berikut dialog antara TUHAN & arwah manusia tersebut:

Tuhan : "Mari kita pergi."

Arwah : "Begitu cepat ? Tapi saya masih memiliki banyak rencana."

Tuhanv: "Maaf, waktumu sudah habis, saatnya untuk pergi."

Arwah : "Apakah isi koper yg Engkau pegang itu ?"

Tuhan : "Benda kamu."

Arwah :  "Benda saya ? Maksudnya barang - barang saya ? Spt baju saya, uang saya, perhiasan saya ?"

Tuhan : "Bukan, barang itu tak pernah menjadi milikmu. Itu milik Dunia."

Arwah : "Apakah itu ingatan & kenangan saya?"

Tuhanv: "Bukan, itu milik Waktu."

Arwah : "Apakah itu bakat & kesuksesan saya ?"

Tuhan : "Bukan juga, itu milik Anugerah."

Arwah : "Apakah itu istri & anak2 saya ?"

Tuhan : "Tidak juga, itu milik hatimu."

Arwah : "Kalau begitu, itu pasti tubuh saya."

Tuhan : "Tidak, bukan. Tubuhmu milik debu tanah."

Arwah : "Jika demikian isinya tentu jiwa saya."

Tuhan : "Kamu salah besar nak, sebab jiwamu itu milik-KU."

Tuhan lalu menyerahkan koper tsb ke sang Arwah. Dengan kebingungan & dengan ketakutan sang Arwah membuka koper tsb.

Dan ternyata isinya KOSONG !

Dengan hati kecewa & airmata berlinang sang Arwah bertanya pd Tuhan, "Maksud Tuhan, saya tak pernah memiliki apapun ?!"

Tuhan menjawab: "Iya, benar. Sesungguhnya kamu itu tak pernah memiliki apapun."

Arwah: "Lalu, apa yg menjadi milikku, Tuhan ?!"

Tuhan: "WAKTU-mu. Saat - saat di waktu kamu HIDUP.  Itulah milikmu !"

Sahabatku semua,
Hidup adalah waktu

Hargai waktu yg ada tersisa,
Jalani hidup dengan penuh rasa syukur & kebahagiaan.

Berhentilah bersungut-sungut dan mengomel.

Nikmatilah setiap saat - saat yang dilalui bersama pasangan dan anak - anakmu, dan bahagiakan mereka selagi kamu masih punya waktu.

Jangan simpan kebencian, dendam, kepahitan ; Tetaplah menjadi baik sampai akhir hidup...

Kamis, 09 Maret 2017

CIRI-CIRI ORANG BAIK


Orang itu baik atau tidak :

1. Orang Baik cenderung LEBIH BANYAK TERSENYUM. Percaya atau tidak, kebaikan seseorang bisa ditunjukkan dari cara dia tersenyum. Mengapa? Karena semakin banyak orang tersenyum, maka *Hawa Positif akan bertebaran di sekitarnya*. Selain itu, dengan tersenyum, orang akan terkesan *lebih ramah dan bisa dipercaya*.

2. Pikiran-pikiran negatif jarang menghinggapi orang baik, sedangkan orang jahat biasanya diliputi rasa iri hati dan dengki.
Orang Baik akan selalu MENANAMKAN PIKIRAN POSITIF dalam hidupnya. Bahkan saat dia mengalami masa-masa sulit sekalipun. Berbeda dengan orang jahat, saat kita berbicara dengannya akan banyak pikiran-pikiran atau gagasan buruk yang dia tebarkan. Bahkan dia bisa menyebar hawa iri dengki di sekitar kita. Sehingga suasana jadi tidak nyaman.

3. Lihat seberapa sering seseorang mengganti nomor handphone. Orang Baik, jarang mengganti nomor handphonenya. Mungkin pada awalnya terdengar konyol dan main-main. Tapi percayalah orang baik JARANG MENGGANTI NO HP NYA.  Mereka beranggapan jika suatu saat orang membutuhkan mereka, gonta-ganti nomor handphone bisa menjadi petaka tersendiri. Orang akan kesulitan mencari nomor kita dan kita kehilangan satu kesempatan untuk menolong orang. Jika ada sebagian orang yang beralasan mengganti nomor ponsel untuk menghindari gangguan, orang baik tidak akan merasa dirugikan dengan apa pun yang orang lain lakukan padanya.

4. Orang Baik biasanya lebih sering MENYAPA DULUAN. Orang baik tidak akan keberatan untuk menyapa semua orang, bahkan terhadap orang yang berbuat jahat padanya sekalipun. Orang baik selalu terhindar dari rasa ingin dicari dan dibutuhkan. Dia biasanya tidak membutuhkan pengakuan orang atas kinerjanya selama ini.

5. Orang Baik TIDAK INGIN MENUNJUKKAN BAHWA DIA BAIK. Tapi orang jahat akan selalu membangun citra baik untuk dirinya.

6. Orang Baik selalu PINTAR MENGENDALIKAN EMOSI. Mereka terlihat sangat sabar dan toleran. Tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri. Sebaliknya selalu mengutamakan kepentingan orang lain.

7. Orang Baik akan bercerita atau MEMBAGIKAN HAL-HAL YANG BERMANFAAT dengan tujuan memberi tahu. Bukan untuk menggiring opini publik bahwa hanya dirinyalah yang benar.

8. Orang Baik selalu merapal 3 kata sakti. Yaitu MAAF, TOLONG, dan TERIMA KASIH.

9. Orang Baik tidak akan keberatan untuk mengakui kelebihan orang lain. Apalagi jika dia merasa salah. Mereka tidak akan segan-segan untuk MEMINTA MAAF DAN MEMPERBAIKI KESALAHAN. Berbeda dengan orang jahat yang memiliki gengsi tinggi dan menganggap dirinya selalu benar. Alamak... Jangankan mengaku salah, menganggap orang lain berprestasi saja gengsinya minta ampun. Ada saja alasannya untuk menjatuhkan orang lain.

Semoga kita bisa melatih diri menjadi orang sabar.
                                        
MEMANG BAIK JADI ORANG PENTING, TAPI JAUH LEBIH PENTING MENJADI ORANG BAIK

SECANGKIR ILMU PAHAM

🍵 "SECANGKIR ILMU PAHAM"

Tingkat terbawah dalam ilmu itu adalah "paham".

Ini adalah wilayah kejernihan logika berfikir dan kerendahan hati..
Ilmu tidak membutakannya, malah menjadikannya kaya...

Tingkat ke dua terbawah adalah "kurang paham".

Orang yang kurang paham akan terus belajar sampai dia paham..
dia akan terus bertanya untuk mendapatkan simpul-simpul pemahaman yang benar...

Naik setingkat lagi adalah mereka yang *"salah paham"*.

Salah paham itu biasanya karena emosi dikedepankan..,
sehingga dia tidak sempat berfikir jernih..
Dan ketika dia akhirnya paham, maka biasanya dia meminta ma'af atas ke-salah paham-annya..
Jika tidak.., dia akan naik ke tingkat tertinggi dari ilmu...

Nah.., tingkat tertinggi dari ilmu itu adalah "gagal paham".

Gagal paham ini biasanya lebih karena kesombongan...
Karena merasa berilmu, dia sudah tidak mau lagi menerima ilmu dari orang lain...
Tidak mau lagi menerima masukan dari siapapun (baik itu nasehat dan lainnya)...
Atau pilih-pilih hanya mau menerima ilmu (nasehat) dari yang dia suka saja.., bukan ilmu yang disampaikan, tetapi siapa yang menyampaikan...

Tertutup hatinya..
Tertutup akal pikirannya..
Tertutup pendengarannya..
Tertutup logikanya..

Dia selalu merasa cukup dengan pendapatnya sendiri...
Parahnya lagi...,
Dia tidak menyadari bahwa pemahamannya yang gagal itu menjadi bahan tertawaan orang yang paham...

Dia tetap dengan pemahaman dirinya...,
dan dia bangga dengan
ke-gagal paham-annya..."

Pertanyaanya ;
"Kok paham ada di tingkat terbawah dan gagal paham di tingkat yang paling tinggi ..??
Apa tidak terbalik..?!"

Jawabannya ;
"Orang semakin paham akan semakin membumi, menunduk dan merendah!!"

Dia menjadi bijaksana, karena akhirnya dia tahu bahwa sebenarnya banyak sekali ilmu yang belum dia ketahui, dan dia merasa seakan-akan dia tidak tahu apa-apa...!!

Dia terus mau menerima ilmu, darimanapun ilmu itu datangnya...

Dia tidak melihat siapa yang bicara, tetapi dia melihat apa yang disampaikan...

Dia paham ...,
ilmu itu seperti air...,
dan air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah...
Semakin dia merendahkan hatinya, semakin tercurah ilmu kepadanya...

Sedangkan gagal paham itu ilmu tingkat tinggi...!!

Dia seperti balon gas yang berada di atas awan...
Dia terbang tinggi dengan kesombongannya...,
Memandang rendah keilmuan orang lain yang tak sepaham dengannya...
Dan merasa akulah kebenaran ... !!!

Masalahnya ..., dia tidak mempunyai pijakan yang kuat, sehingga mudah ditiup angin tanpa mampu menolak...
Sering berubah arah tanpa kejelasan yang pasti...

Akhirnya dia terbawa kemana-mana sampai terlupa jalan pulang...,
dia tersesat dengan pemahamannya...,
dan lambat laun akan dibinasakan oleh kesombongannya...!!

Dia akan mengakui ke-gagal paham-annya dengan penyesalan yang amat sangat dalam...!!

"Jadi yang perlu diingat ...
akal akan berfungsi dengan benar, ketika hati merendah ...
Namun tatkala hati meninggi, maka ilmu jugalah yang akan membutakan si pemilik akal ..."

Ternyata di situlah kuncinya...!!

"Lidah orang bijaksana berada didalam hatinya, dan tidak pernah melukai hati siapapun yang mendengarnya ...
Akan tetapi hati orang dungu berada di belakang lidahnya, dan selalu hanya ingin perkataannya saja yang paling benar dan harus didengar ..."

"Ilmu itu open ending"..

Makin digali makin terasa dangkal..

Jadi... kalau ada orang yang merasa sudah tahu segalanya, berarti dia tidak tahu apa-apa...!!

Hanya Allah Yang Maha Pemberi Taufiq dan Hidayah..
Semoga bermanfa'at..